Selasa, 29 Juni 2010

Simetri Tubuh Gambarkan Tingkat Kecerdasan


KECERDASAN tergambar melalui simetri tubuh. Orang-orang yang lebih cerdas, menurut temuan peneliti, memiliki bentuk tubuh yang lebih simetris dibandingkan individu-individu yang kurang cerdas.

Simetri tubuh, terang peneliti, diukur dengan melihat bagian-bagian tubuh yang diciptakan berpasangan, kanan dan kiri. Bagian tubuh tersebut seperti jari-jari tangan dan kaki, tangan serta kaki. Lebar dan panjang bagian-bagian tubuh ini diukur dan kemudian dibandingkan.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal Intelligence ini didasarkan pada sebuah analisis yang dilakukan tim peneliti dari Virginia Commonwealth University (VCU).

"Sejauh ini, kemampuan kognitif telah digambarkan sebagai penanda terbaik performa kerja," terang co-author studi George Banks, seperti dikutip situs healthday.com, Jumat (25/6)."Temuan ini menyediakan satu bukti penyebab potensial adanya perbedaan dalam kecerdasan individu."

Dalam studi ini, Banks dan teman-temannya memeriksa 14 studi sebelumnya yang mempelajari kemungkinan hubungan antara tubuh dan pikiran di antara hampir 1.900 orang.

Meurut Banks, studi-studi sebelumnya telah mengindikasikan bahwa kecerdasan merupakan salah satu indikator kunci kesehatan, angka kematian dan kebugaran secara umum di masa depan. Selain itu, kecerdasan merupakan komponen penting dalam meningkatkan suksesnya reproduksi dan kemampuan bertahan secara umum.

Bukti adanya hubungan antara kebugaran dan otak tersebut, terang Banks, menginspirasi tim peneliti dari VCU untuk melihat kemungkinan adanya hubungan antara simetri tubuh dengan kecerdasan.(IK/X-12)



Sumber


Mau dapat uang Gratis, dapat kan di http://roabaca.com/forum/index.php/topic,87.0.html
Read More..

Pegang Ponsel Terlalu Lama Picu Stres Saraf


TELEPON seluler (ponsel) telah dinyatakan bisa menimbulkan gangguan pendengaran dan membuat pengguna terpapar radiasi yang berbahaya. Dampak negatifnya tidak hanya berhenti sampai di situ, penelitian terbaru menemukan, mereka yang tidak bisa berhenti bicara sambil memegang ponsel di tangan menghadapi tantangan kesehatan baru, yaitu gangguan saraf pada siku.

Pengguna yang memegang ponsel dan mendekatkan ke telinga mereka untuk jangka waktu yang lama berisiko mengalami sakit pada lengan. Dengan menekuk siku terlalu ketat dan terlalu lama, mereka bisa terlalu meregangkan saraf utama.

Hal ini, terang peneliti, selain menimbulkan rasa sakit juga bisa memicu rasa nyeri dan kesemutan mulai dari siku hingga jari-jari. Berdasarkan data dari pakar ortopedi, semakin banyak pasien yang mengalami masalah ini. Untuk menghindari hal ini, mereka menganjurkan pengguna ponsel untuk memegang ponsel secara bergantian dengan tangan kanan dan tangan kiri.

Pusat masalah, terang mereka, berada pada saraf ulnar (ulnar nerve) yang membentang di bawah titik siku sekaligus juga mengontrol jari manis dan kelingking. Saraf akan melemah jika diregangkan secara berulang-ulang. Aliran darah ke saraf juga akan terhambat sehingga menimbulkan rasa nyeri. Hal ini bisa memicu cubital tunnel syndrome. Ini merupakan suatu kondisi dimana tangan penderita melemah dan penderita bahkan kesulitan membuka sesuatu, mengetik, menulis atau memainkan instrumen tertentu.

Regangan ini, terang Dr Leon Benson, juru bicara American Academy of Orthopaedic Surgeons, akan menimbulkan stres pada ulnar nerve."Semakin Anda menekuknya, misalnya saat menggunakan telepon, maka saraf juga akan semakin mengalami peregangan. Hal ini akan mengganggu suplai darah sehingga darah tidak bisa mengalir ke saraf-saraf tersebut," terang Benson, sperti dikutip situs dailymail.

Menurut Benson, meskipun saraf-saraf didisain untuk peregangan, tetap saja tidak normal jika diregangkan selama 1 jam. Hal ini, terang Benson lebih jauh, bahkan bisa memicu cubital tunnel syndrome kronis yang harus ditangani dengan operasi. Tetapi, terang dia lagi, sebagian besar kasus bisa ditangani dengan mengganti tangan saat menggunakan telepon.

Studi sebelumnya telah menemukan kalau terlalu banyak mengetik pesan (SMS) bisa menyebabkan cidera peregangan berulang di jari. Studi lain juga menemukan kalau menggunakan ponsel lebih dari 1 jam per hari bisa merusak pendengaran. Studi ini juga menyatakan kalau mereka yang menggunakan ponsel lebih lama, mengalami gangguan bicara, khususnya mengucapkan kata-kata yang dimulai dengan huruf s, f, h, t, dan z.

Beberapa ilmuwan juga mengklaim kalau radiasi ponsel bisa menimbulkan gangguan seperti epilepsi. Akan tetapi, produsen ponsel menolak keras hal ini.

Bagaimana dengan Anda? Dengan gaya hidup sekarang, tentu sangat sulit menjauhkan ponsel dari sisi Anda. Tapi, tentunya Anda bisa lebih bijaksana dalam menggunakannya.



Sumber
MediaIndonesia.com

Mau dapat uang Gratis, dapat kan di http://roabaca.com/forum/index.php/topic,87.0.html
Read More..

Stres Picu Psoriasis


PSORIASIS merupakan penyakit kulit yang belum bisa diobati secara tuntas. Kemunculannya dipicu beberapa faktor. Salah satunya adalah kondisi stres.

''Psoriasis merupakan suatu penyakit kulit dengan penderitanya mengalami proses pergantian kulit terlalu cepat. Gejalanya kulit menebal dan bersisik,'' ujar Guru Besar Fakultas kedokteran Universitas Indonesia Prof dr Benny E Wiryadi SpKK (K) dalam diskusi mengenai psoriasis di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Benny menjelaskan hingga saat ini penyebab psoriasis belum diketahui secara pasti. Diduga kuat, penyebabnya adalah sistem kekebalan yang menyerang sel-sel tubuh sendiri (autoimun). Namun diketahui, kemunculan psoriasis dipicu sejumlah faktor. Yang paling sering adalah kondisi stres. ''Sekitar 77,8% kasus psoriasis dipicu kondisi stres atau emosi yang tidak terkendali,'' ujar Benny.
Pemicu lainnya adalah trauma karena garukan, gesekan, dan tekanan berulang (20,6%), narkoba (10%), infeksi streptokokus dan HIV, gangguan metabolisme, rokok dan alkohol.

Psoriasis tidak menular. Serangannya dapat berlangsung lama dan hilang timbul. Meski secara klinis tidak mengancam jiwa, psoriasis dapat menurunkan kualitas hidup karena kemunculannya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja.



Sumber
MediaIndonesia.com

Mau dapat uang Gratis, dapat kan di http://roabaca.com/forum/index.php/topic,87.0.html
Read More..

Jengkel Picu Serangan Jantung


ANDA sering kesal dan merasa dikungkung stres setiap harinya? Mulailah menghadapi dan mengatasi emosi kekesalan Anda dengan cara yang lebih positif. Pasalnya, membiarkan diri terbelenggu emosi akan membuat Anda berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung.

Hal ini didukung oleh studi kecil yang dilakukan peneliti dari Universitas California. Penelitian menunjukkan, remaja yang mengalami banyak stres setiap harinya akan mengalami peningkatan protein tertentu dalam darah. Protein ini bisa menyebabkan peradangan kronis. Peradangan ini selanjutnya akan meningkatkan risiko penyakit jantung seiring dengan pertambahan usia.

dr. Andrew J. Fuligni dan teman-temannya meneliti 69 siswa sekolah menengah atas. Peneliti merekam semua interaksi interpersonal negatif dari para partisipan selama 2 minggu. Interaksi negatif ini bisa berupa konflik dengan keluarga, gangguan dari teman, atau teguran dari guru-guru. Selanjutnya, para peneliti mengukur kadar protein reaktif-c dalam darah partisipan sekitar 8 bulan kemudian.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, kadar protein reaktif-c yang tinggi merupakan pertanda kemungkinan terjadinya peradangan pada tubuh. Hal ini kemudian akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular pada orang dewasa.

Para peneliti menemukan, kadar protein reaktif-c meningkat seiring dengan meningkatnya frekuensi stres harian yang melibatkan orang lain. Hasilnya tetap sama, bahkan setelah peneliti memperhitungkan faktor tingkat perbedaan sensitivitas setiap partisipan terhadap penolakan, situasi-situasi yang penuh tekanan dalam kehidupan sehari-hari, dan sumber stres lainnya.

"Kejadian yang mengesalkan dan menyulitkan seperti bertengkar dengan anggota keluarga atau teman bisa berdampak buruk bagi kesehatan, khususnya jika sering terjadi selama rentang waktu tertentu," terang Fuligni seperti yang dikutip oleh foxnews.com.

Dalam studi yang dipublikasikan di journal Psychosomatic Medicine ini, Fuligni dan teman-temannya menekankan konsistensi hasil penelitian dengan sejumlah bukti yang mengaitkan stres dengan peningkatan peradangan."Peradangan ini selanjutnya akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular," terang meraka.



Sumber
mediaIndonesia.com

Mau dapat uang Gratis, dapat kan di http://roabaca.com/forum/index.php/topic,87.0.html
Read More..

Pasangan Picu Stres Lebih Besar Ketimbang Atasan


ANDA mengira bahwa pekerjaan merupakan sumber stres utama? Jangan salah, pasangan juga bisa membuat Anda tertekan. Pasangan, menurut temuan survei terbaru, memicu stres lebih besar dibandingkan bos.

Selain itu, hasil survei yang dilakukan terhadap 3.000 lelaki dan perempuan ini juga menemukan bahwa suami lebih rentan menaikkan tekanan darah istri dibandingkan sebaliknya. Secara umum, 58 persen partisipan survei mengatakan bahwa pasangan mereka merupakan salah satu pemicu yang membuat mereka berada di bawah tekanan.

Hanya 43 persen partisipan menyatakan hal sama mengenai majaner mereka. Dan 18 persen perempuan menyatakan bahwa pasangan mereka menambah banyak stres ke dalam kehidupan mereka, dibandingkan dengan hanya 12 persen pada lelaki.

Mengapa pasangan jadi sumber stres? Menurut Cary Cooper, seorang profesor psikologi kesehatan dari Lancaster University, orang-orang membawa masalah pekerjaan ke rumah."Salah satu strategi mengatasi masalah yang dimiliki seseorang saat merasa tidak aman adalah dengan mengeluarkan kepada pasangannya," tutur Cooper, seperti dikutip situs dailymail.co.uk, Senin (28/6).

Salah satu penyebab stres, terang Cooper, adalah budaya jam kerja yang panjang."Jika Anda mempunyai jam kerja panjang, itu akan merusak kesehatan Anda dan hubungan Anda di rumah."

Mengerjakan tanggung jawab keluarga dan karier, imbuh Cooper, juga membuat perempuan lebih stres dibandingkan lelaki. Akan tetapi, lanjut Cooper lagi, perempuan mengatai stres dengan lebih baik. Hal ini karena perempuan lebih mudah berbagai perasaan mereka kepada orang lain.

Selain itu, survei yang dilakukan produsen penghasil elektronik dan alat-alat kesehatan (Philips) ini juga menemukan, perempuan lebih mengkhawatirkan berat badan dibandingkan pendapatan mereka. Hampir lima puluh persen partisipan menyatakan bahwa berat badan sangat penting terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka. Hanya 27 persen yang menyatakan hal serupa mengenai gaji mereka.

Di samping itu, perempuan juga dua kali lipat lebih mencemaskan efek obesitas terhadap kesehatan mereka di masa depan dibandingkan efek kolesterol tinggi dan bahkan kanker. Sedang hanya 36 persen lelaki berpikir bahwa berat badan sangat penting terhadap kesehatan dan kesejahteraan. Sementara 33 persen lelaki menyatakan bahwa gaji lebih penting.

Para peserta survei juga optimistis mengenai masa depan, dengan hampir 50 persen meyakini bahwa mereka akan hidup hingga usia rata-rata 79. Tiga persen berharap bisa mencapai usia 100, dengan banyak partisipan meyakini bahwa saat mereka menderita penyakit serius, teknologi medis akan menyediakan penyembuhan. (IK/X-12)



Sumber
MediaIndonesia.com

Mau dapat uang Gratis, dapat kan di http://roabaca.com/forum/index.php/topic,87.0.html
Read More..

Mimpi Buruk? Temukan Alasannya


PERNAHKAH Anda bangun pagi dengan pikiran yang masih dibayang-bayangi mimpi Anda selama tidur? Atau, pernahkah Anda terbangun di tengah malam karena mimpi buruk? Dari mana sebenarnya datangnya mimpi-mimpi ini? Menurut para peneliti, mimpi-mimpi buruk biasa, merupakan cara otak membantu kita dalam meregulasi emosi-emosi negatif. Sedang mimpi yang mengerikan (nightmare) menggambarkan adanya kesalahan kecil dalam proses regulasi tersebut.

Para peneliti dan orang-orang pada umumnya telah lama berusaha mencari jawaban mengenai fungsi mimpi sebenarnya. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian di bidang psikologi dan aktivitas otak yang berkaitan dengan mimpi, telah menunjukkan kunci-kunci mengapa tidur kita seringkali dipenuhi dengan bayangan-bayangan yang aneh bahkan kadang-kadang menakutkan.

Berdasarkan tulisan Drs. Ross Levin dan Tore Nielsen dalam journal Current Directions in Psychological Science, rangkaian mimpi-mimpi buruk merupakan bagian dari metode otak dalam mengolah emosi-emosi. Pada faktanya, terang mereka, pengaturan emosi mungkin merupakan fungsi utama dari tidur REM, tahapan tidur dimana sebagian besar mimpi kita muncul.

Berbeda dengan mimpi-mimpi pada umumnya, mimpi yang mengerikan (nightmare), secara teknis, merupakan mimpi buruk yang bisa membangunkan kita dari tidur. Hal ini bisa terjadi saat proses regulasi emosi berjalan salah. Mimpi buruk bukanlah hal yang tidak wajar. Studi-studi menunjukkan, sebagian besar mimpi kita bukanlah mimpi yang menyenangkan.

Mimpi-mimpi atau tahapan REM berfungsi untuk mengolah memori-memori yang menakutkan. Dengan begitu sistem tidak kewalahan. Sebagian dari ingatan kita akan dimasukkan ke dalam satu ruangan dan menyatu. Hal ini menempatkan mimpi-mimpi ini dalam satu konteks baru dan menyebarkan ketakutan yang ada.

Studi-studi menunjukkan, dalam tahapan tidur REM, aktivitas di bagian tertentu otak, termasuk sistem limbic yang terlibat dalam proses pengaturan emosi, serta memori, naik dan turun secara drastis.

Dalam mimpi yang mengerikan, pemimpi terbangun, mengganggu proses emosi. Dengan terbangun, menurut Levin, seorang psychologist dari Yeshiva University di New York, orang yang bermimpi tersebut merasa lebih baik. Tapi, lanjut dia, hal tersebut bisa memaksa hadirnya perasaan bahwa ancaman dalam mimpi itu benar-benar nyata.

Sebagian besar orang pernah mengalami mimpi yang mengerikan, khususnya saat mengalami stres berat. Berdasarkan hasil penelitian, 85% orang dewasa pernah mengalami mimpi yang mengerikan paling tidak sekali dalam setahun."Mimpi yang mengerikan ini hanya akan jadi masalah jika masih mengganggu aktivitas orang tersebut di siang hari," terang Levin, seperti dikutip situs foxnews.

Menurut Levin, mereka yang cenderung cemas jika menghadapi situasi yang penuh tekanan, memiliki risiko lebih tinggi mengalami mimpi yang mengerikan. Mimpi-mimpi ini mungkin membuat mereka lebih stres setelah bangun. Akibatnya, mereka akan mengalami lebih banyak lagi mimpi yang mengerikan.

Berita bagusnya, terang Levin, pemahaman yang semakin luas mengenai mimpi buruk ini, telah membuahkan terapi-terapi yang terbukti efektif.



Sumber
MediaIndonesia.com

Mau dapat uang Gratis, dapat kan di http://roabaca.com/forum/index.php/topic,87.0.html
Read More..

Mimpi Buruk Berpengaruh pada Kesehatan


MIMPI buruk tingkatkan kecemasan. Menurut temuan sebuah studi terbaru mimpi buruk berkaitan dengan beragam gangguan kesehatan, mulai dari insomnia, kelelahan dan sakit kepala hingga depresi serta kecemasan.

Gangguan kesehatan mental, seperti depresi, lima kali lebih umum dijumpai pada lelaki dan perempuan yang mengalami mimpi buruk secara teratur.

"Kaitan kuat antara frekuensi mimpi buruk dan gangguan terkait tidur di siang hari menekankan adanya fakta bahwa mimpi buruk mempunyai efek kuat terhadap kesejahteraan pasien. Dan hal ini sebaiknya ditangani," tutur Dr Michael Schredl dari Sleep Laboratory di Central Institute of Mental Health di Mannheim, Jerman, seperti dikutip situs dailymail.co.uk, Minggu (27/6).

Mimpi buruk merupakan mimpi-mimpi menakutkan yang membangunkan orang-orang dari rapid eye movement (REM) atau tidur. REM merupakan level tidur di mana ada aktivitas otak tingkat tinggi.

Dalam studi terbaru ini, para psikiater menyelidiki mimpi buruk pada 9.000 orang dewasa. Peneliti melihat frekuensi mimpi, siapa yang mimpi dan hubungan mimpi dengan gangguan kesehatan.

Hasil menunjukkan, 5,1 persen partisipan sering mimpi buruk (paling tidak sekali seminggu). Perempuan lebih sering mimpi buruk (6,2 persen) dibandingkan lelaki (3,8 persen). Selain itu, partisipan yang termasuk dalam kategori gangguan saraf juga lebih rentan memiliki mimpi menakutkan. Peneliti juga menyatakan adanya bukti keterkaitan dengan faktor genetik.

Di samping itu, frekuensi mimpi buruk juga berkaitan dengan pendapatan dan pengangguran. Orang-orang yang memiliki pendapatan terendah berisiko 2,3 kali lipat lebih besar mengalami tiga atau lebih mimpi buruk seminggu dibandingkan partisipan yang lebih makmur.

Stres tinggi terkait pendapatan rendah dan status sosial, terang peneliti, juga membuat beberapa orang lebih rentan mengalami mimpi buruk.

Dan sebagai akibatnya, terang Schredl, frekuensi mimpi buruk yang lebih besar berkaitan dengan peningkatan risikoi insomnia, keletiahan di siang hari, sakit kepala dan kesulitan bangun di pagi hari. Hasil menunjukkan, orang-orang yang sering mimpi buruk berisiko 5,7 kali lebih besar mengalami gangguan kejiwaan dibandingkan mereka yang tidak.

Berdasarkan temuan studi, berikut tipe mimpi buruk yang paling sering dialami:
1. Terjatuh (39,5 persen)
2. Dikejar (25,7 persen)
3. Lumpuh (23,3 persen)
4. Terlambat menghadiri acara (24 persen)
5. Kehilangan orang terdekat (20,9 persen)
6. Film horror (18,9 persen)
7. Tidak bisa menyelesaikan tugas (17,3 persen). (IK/OL-06)



Sumber
MediaIndonesia.com

Mau dapat uang Gratis, dapat kan di http://roabaca.com/forum/index.php/topic,87.0.html
Read More..

LABELS

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Lijit Search Wijit

Blog Archive