Kamis, 27 Mei 2010

Andai “si adik” tak mau tidur

Dokter yang baik, salam hangat dok. Beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca berita ada seorang pria yang mengeluhkan “si adik” tidak mau tidur. Terus siaga dan berjaga. Singkat cerita, pria tersebut dibawa ke RS untuk dilakukan terapi. Kok bisa ya Dok? Adakah cara untuk menangkalnya? Terus terang, saya agak cemas setelah membaca berita tersebut, takut kalau saya sendiri akan mengalaminya, saya sendiri baru berumur 32 tahun dan baru sekitar tiga bulan menikah. Terima kasih banyak dok.
Andi, Pasar Nongko.

Bapak Andi yang baik, reaksi itu adalah anugerah yang Maha Kuasa. Berbagai cara dilakukan orang untuk mendapatkan ereksi yang maksimal. Mulai dari berolahraga secara rutin, makan makanan bergizi, hingga mengonsumsi obat-obatan semacam viagra. Namun bila terus menerus siaga tentu saja bukan hal yang wajar. Itulah yang terjadi pada pria tersebut.

Dalam bahasa medis, kondisi itu dikenal sebagai priapismus, yakni kondisi ereksi penis yang terjadi begitu saja, kadang terasa nyeri dan menyakitkan. Pasien datang dengan riwayat ereksi yang nyeri dan berlangsung selama beberapa jam. Batang “si adik” akan mengeras dan nyeri saat dipegang.

Dalam kondisi normal, “adik” akan siaga ketika ada aliran darah yang mengalir deras ke batangnya. Namun pada priapismus terjadi sebaliknya, aliran darah yang menuju ke batang seharusnya pada waktu tertentu akan kembali ke asal yakni pembuluh darah utama sekitar panggul tidak kembali. Akibatnya terjadi genangan volume darah pada batang “si adik”.

Ada berbagai macam penyebab timbulnya kelainan ini, sekitar 42% penyebab priapismus akibat penyakit sickle-cell. Namun penyebab lainnya diduga akibat pengobatan terutama obat untuk penyakit mental tertentu, trauma pada saraf tulang belakang atau genital, gigitan laba-laba hitam, keracunan karbon monoksida, penggunaan obat terlarang seperti kokain, ganja, pada kasus yang jarang terjadi akibat kanker yang dapat mempengaruhi aliran darah di penis.

Penanganan untuk kasus ini jelas oleh dokter spesialis urologi.Untuk kasus yang teridentifikasi penyebabnya akan diterapi sesuai dengan penyebabnya. Misalnya untuk kasus yang berespons dengan aspirasi darah (pengambilan darah) maka dokter akan melakukannya. Bisa jadi penyelesaiannya adalah pembedahan.



Sumber
Solopos.com

Mau dapat uang Gratis, dapat kan di http://roabaca.com/forum/index.php/topic,87.0.html

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

LABELS

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.

Lijit Search Wijit

Blog Archive